Monday, 2 February 2015

Kisah Sedih Dihari Minggu

Ingin sedikit berbagi tentang perjalanan Gowes hari Minggu 01/02/15

Tulisan ini saya beri judul "Kisah Sedih Dihari Minggu". Kok kayak lagu ya? Biyarin deh. 

Beberapa hari lalu, ada kabar gowes ke Gunung Bunder. Sebenarnya saya selalu penasaran dengan tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya, maupun tempat yang belum pernah saya lewati dengan bersepeda. Sayapun memutuskan untuk ikut rombongan FeDe. Dengan harapan Nanjak bareng sepeda besi pasti lebih santai.

Jam 05.40 saya sudah keluar kandang. Cari pom untuk isi angin ban. Ban memang kurang angin sepulang dari KM Nol hari sabtu 31/01/15. *KetauanDehKaloNgisiAnginCariGratisan.

06.20 Saya sudah tiba di Tikum 1 disambut gerimis ringan. Om Jajang Azhar ternyata sudah tiba terlebih dahulu. Tidak lama berselang om Bayu Aji tiba, dan disusul oleh om Tomi Depok. Gerimis berhenti, Om Hendy Monte pun tiba. Tinggal menunggu RC, Om Budi Sharaldy. Setibanya Om Budi, rombongan pun bergerak menginggalkan Tikum 1. Namun Om Tomi Izin tidak dapat ikut. Bendera Fede di titipkan kepada saya.

*Sebelum berangkat dari tikum satu ke tikum dua. Foto Oleh Om Tomi. Kiri-Kanan Om Jajang, Om Hendy, Om Budi, Saya, Om Bayu Aji



Perjalanan Tikum 1 ke Tikum 2 dikawal hujan ringan. Om Agus Smt sudah menungggu di Tikum 2. Namun selepas perempatan Mampang, Sepeda saya mulai menunjukan gelagat aneh, stang agak goyang. Sedih pertama pun mulai terjadi. Stem, alias pala bango kendor. Akhirnya ke bengkel sepeda motor di sebrang RSUD Depok untuk dikencangkan plus ini angin ban belakang. Perjalanan di lanjutkan ke Tikum 2.

Di tikum 2 saya sudah di tunggu. Hehehe Maaf ya om saya lelet. Saat stem di kencangkan di bengkel tadi stang kurang lurus. jadi di buka lagi untuk di perbaiki. Hari ini pertama kali dalam hidup saya naik sepeda di jalan raya parung. Seperti tebakan saya ternyata saya engap. Jalur yang cenderung naik turun dengan tanjakan yang landai tetap berhasil membuat saya keok dan pindah ke rasio paling ringan. Selepas pasar parung jalan mulai cenderung datar namun menanjak. Saya masih bisa mengikuti rombongan di barisan ke 2 terakhir. *Padahal Start duluan.

Kecepatan gowes cukup konstan. Om Budi di depan memimpin rombongan yang berbaris saling tempel. Tidak bertahan lama, menjelang pertigaan kearah situ kemuning bojong gede saya mulai kehabisan tenaga dan berada di paling belakang. Tak berapa lama, saya hilang di belakang  tapi ini bukan sedih yang ke 2. Saya tetap melanjutkan perjalanan dengan kecepatan segelindingnya.

Menyusuri jalan sekitaran Lanud Atang Sanjaya dan mengarah ke Darmaga. Dari sini saya belum memiliki gambaran rute mana yang dilalui. menjelang IPB, jalan terlihat macet mengular. saya tidak ambil pusing gowes saja, kalau capek tuntun. Ditengah kemacetan, gejala stang oblak muncul lagi. Beruntung ada toko elektronik, langsung saja satu set kunci L ditebus dengan mahar 9rb rupiah. Masalah obak ini, saya anggap selelai.

GPS Manual saya aktifkan. Mulai tanya sana-sini sama Akang, Teteh, dan Mamang di pinggir jalan. Dapat kabar kalau rombongan lewat Cibatok, saya bingung. Masih buta daerah Darmaga dan sekitarnya. GPS Manual terus saya aktifkan untuk mengarah ke Pasar Cibatok. Hujan turun lagi. Saya putuskan untuk pakai mode "Gowes Hujan" Tanpa kacamata, dan semua perkakas yang rentan air di simpan di gembolan.

*Sebelum hujan, persimpangan tiga Cikampak - Cibatok Kekanan. Dokumentasi pribadi.

Kurang lebih 4 KM Gowes hujan di jalan yang naik turun, akhirnya sampai juga di pasar Cibatok dan mulai memasuki jalur mengarah gunung Bunder. 100 meter dari pertigaan, saya lihat ada orang pakai kaos mirip kaos FeDe di kanan jalan. Dari jauh tidak kelihatan. Ternyata itu Om Bayu. Wahh ternyata masih di tungguin. Syukurlah, Bisa istirahat sebentar.

Lagi-lagi saya "nyolong start" Walau berakhir dengan di tinggalin lagi di belakang.  Sedih kedua, hujan deras sederas-derasnya. saya tetap santai walau sendirian. Gowes gontai kalo kayanya mah. Rasio tidak jauh dari yang paling ringan. Sampai akhirnya bertemu lagi dengan rombongan yang sepertinya sedang ngiup karena hujan. Saya tetap lajut. Colong start lagi, dan selalu berakhir sama. Memang dengkul ini harus di "Upgrade" biar gak ketinggalan. Minimal yang di depan masih keliatan gak sampai hilang.

Memasuki gerbang Desa Gn. Bunder, sambutan yang sangat meriah datang dari tanjakan itu. Tanjakannya mirip sama yang di bojong koneng. bedanya ini sepi, gak ada polisi tidur. Siksaan ini dimulai lagi, dan ini sedih kedua di hari Minggu. Saya, tetap TTBan di temani hujan yang masih saja jahat membasahi. Di ujung tanjakan ketemu minimarket. Wahh, ternyata semua ada di sana kecual om Budi. Ikutan istirahat deh.

*Saya menuntun sepeda menjelang warung kecil setelah minimarket Foto Oleh Om Hendy

Mumpung masih istirahat, nyolong start lagi. Tak lama berselang, om Bayu menyalip, Disusul om Jajang, lalu om Agus. Om Hendy masih menempel di belakang saya. Sepertinya om Hendy kurang fit. saat saya menyerah TTB dia juga ikutan.

Om Budi istirahat di warung kecil. Yang lain juga ikut berhenti. Saya berhenti sebentar lalu lanjut lagi. konstan saya jalan kaki sambil menuntun sepeda sampai gerbang gn. Bunder. Akhirnya, Selesai penderitaan ini.

*Sepeda yang saya gunakan. Dokumentasi Pribadi

*Sesi foto bersama. Kiri-kanan, Om Hendy, Om Budi, Saya, Om Jajang, Om Bayu Aji. Foto Oleh Om Agus

Selelsai foto-foto plus cari makanan panas, kami pulang. Turunan di sini ternyata tidak terlalu asik. Tidak curam, jalan yang licin dan pemotor yang menyepelekan sepeda. Beberapa kali saya sempat Hard Braking karena ulah beberapa pemotor yang tidak mau mengalah. Padahal jauh lebih baik kalau sepeda duluan. Mengambil jarak agar jauh dibelakang sepeda motor juga sulit karena mereka tidak berjalan kencang.

Selepas Desa Gn. Bunder, jalan yang dulalui tidak sama dengan saat berangkat tadi. Saya, Om Bayu dan Om Jajang mengambil jalur lurus tidak melewati pasar Cibatok. Ternyata Om Hendy, Om Agus dan Om Budi berbelok kekiri melewati Pasar Cibatok.

Jalur lurus ini jalanya agak kurang halus. Entah kenapa ban kempes lagi semenjak di atas tadi. Akhirnya saya putuskan untuk isi angin di benkel Sepeda motor. Lagi-lagi sepeda di remehkan. Ban saya yang cuma 1.50 di isi angin-pelan pelan. takut pecah katanya. Saya bilang saja kalau angin ban saya minimal 50psi. Tapi ternyata, kompresornya tidak kuat. ya sudah lah. yang penting sudah sedikit bertambah.

Tidak lama berselang jalan mulai mulus, sepi dan sejuk. *Dingin sih lebih tepatnya. Om Bayu dan Om Jajang hilang di depan. Ya sudah, nikmati saja perjalanan ini. Di ujung jalan ada pertigaan, Om Bayu dan Om Jajang sudah menunggu. Cek Posisi Om Budi dkk ternyata masih istirahat. Kamipun memutuskan untuk jalan duluan. Rute pulang kami, sama lewat Jl Raya Bogor.

Jalan di Darmaga Macet. Saya lagi-lagi tidak sanggup mengimbangi Om Bayu dan Om Jajang. Yahh Nasib. Inilah Kisah Sedih Dihari Minggu, Yang Selalu Menyiksaku. Dengan sisa tenaga seadanya, Gowes segelindingnya, sampai juga di bubulak. Masuk lewat terminal, Siapa tau masih ada bus malam yang baru mau bernangkat ke jawat tengah. Pingin sarkawi an sampe depok. *Sarkawi adalah penumpang gelap yang tidak beli tiket.

Terminal Bubulak sepi. Bus yang bisa buat Sarkawian sudah bernangkat semua. yah sudah lah lanjut terus ke jalan raya bogor sambil cari-cari tempat makan yang seetinya enak. ‪#‎MulaiLapar‬ Sepanjang jalan saya tidak menemukan warung makan yang menarik hati. Mungkin sudah terlalu lelah. Memasuki Taman Yasmin, Jalan sudah mengular Hanya bisa ngelus dada di sini. Penyebabnya super duper gak jelas. Hanya ada putaran dan sedikit jalan berlubang. Dah selesai, setelah itu lancar.

Jalan Raya Bogor bonus terindah selepas gowes. Jalan datar yang bisa di gowes tanpa banyak tenaga yang keluar. Sempat tergoda untuk lewat karadenan, tapi gak deh. Ban mulai kurang angin lagi, sebelum perempatan pomad ada pom, santai lah. Menjelang pom, saya istirahat karena haus. Cek HP dan ternyata HP mati kehabisan batrei. Lanjut lah sudah dekat rumah. Masuk area pombensin saya lupa memindahkan chainring sehingga pedal terasa berat. Sedikit berdiri untuk menambah tenaga namu ternyata rantai tidak kuat menahan dan putus. Ini yang paling sedih. Saya tidak punya alat untuk menyambug rantai.

Tetap pada tujuan awal isi angin, Ban saya isi 50psi sesuai permintaan yang tertera di ban. Lalu kelanjutanya masih bingung. Seingat saya ada 2 bengkel sepeda di sekitaran pomad. Semoga masih buka. Bengkel pertama disamping Karoseri Naga sakti. Ternyata sudah tutup. Bengkel selanjutnya sebelum dishub Bogor. Beruntung bengkel masih buka. Mahar 4rb rupiah untuk jasa menyambung rantai.

Selesai rantai tersambung, perjalanan dilanjutkan sampai rumah. Perut terasa lapar entah kenapa semenjak rantai putus saya lupa untuk cari warung makanan. Mungkin saya lelah  18.45 saya tiba di rumah dengan selamat. Jangan di tanya seperti apa jalan raya Bogor. Sudah pasti ramai dan macet di titik yang memang biasanya macet.
Inilah kisah sedih dihari minggu.

Oke sobat, Sampai di sini dulu. Terima kasih sudah "Sudi Mampir" di sarang codot yang terbengkalai ini.